awal

Laman

Minggu, 10 Juni 2012

Masarang “Benteng Hijau” Yang Tetap Terjaga


Gunung Masarang
DENGAN wajah ramah dan senyum yang khas, warga kelurahan Masarang menjawab ketika kami dari Tim Jelajah Swara Kita (TJ-SK) menayakan jalan menuju gunung Masarang. Rasa bersahabat begitu kental terasa ketika kami, Sabtu (20/9) lalu, berkunjung kelurahan ini, satu budaya yang mulai terkikis di era modern seiring perkembangan jaman.

“Iko terus jo ini jalan, ndak usah tako mo ilang dari jam begini masih banyak orang dikebun batanya jo ndak usah malu,” ujar seorang ibu ketika kendraan kami tidak bisa lagi melewati medan yang tidak beraspal.

Rupanya jalan beraspal yang membelah kelurahan Masarang ini hanya sampai diujung kampung, dan untuk menuju gunung Masarang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Beruntung, ketika kami sementara menapaki jalan setapak yang juga dijadikan warga untuk mengangkut hasil-hasil kebun cuaca turut juga mendukung karena jika hujan terjadi dapatlah dibayangkan medan menuju gunung Masarang ini tentu akan menjadi berat. Dan hal ini dikaui oleh Jhon Winatisan warga Masarang yang berkebun tepat di perbatasan antara hutan lindung Masarang.

“Syukur hari bapanas ndak hujan. Mar kalau pas hujan ngoni naik kemari pasti belum sampai lantaran jalan jadi licin deng bapece,” jelas pria ini menyambut kedatangan kami di pondok miliknya.

Apa yang dikatakan bapak ini memang betul karena tidak sampai tiga puluh menit kami sudah sampai di batas hutan lindung. Gunung Masrang ini sendiri beberapa tahun lalu sempat terancam dengan adanya aktifitas penebangan liar dan pembukaan lahan perkebunan oleh warga yang ada di sekitar kaki gunung.

Akibatnya tak hanya hutan yang semakin gundul namun habitat yang ada di gunung ini juga ikut terganggu. Tak hanya itu mata air yang menjadi kebutuhan bagi warga satu persatu menghilang akibatnya warga mulai kewalahan untuk mendapatkan air bersih.

Gunung Masarang ini sendiri memiliki dua puncak, puncak yang pertama lebih dekat ke kota Tomohon dan yang satunya desa Rurukan, namun jika dari kelurahan Masarang kedua puncak ini begitu dekat jaraknya begitupun dari arah gunung Mahawu.

Dipuncak pertama sendiri ada sebuah danau yang dikenal dengan danau Linau dan diyakini sumber air yang menghidupi kalurahan Masarang termasuk kota Tomohon berasal dari danau ini.
Gunung ini sendiri menjadi salah satu lokasi para pecinta alam menggelar berbagai kegiatan seperti pendidikan dasar bagi anggota baru hingga pengamatan satwa. Dengan adanya kerusakan tersebut, warga khususnya kelurahan Masarang mulai kembali melakukan reaboisasi lewat salah satu yayasan yakni yayasan Masarang.

Warga sendiri tidak hanya menam sayur-sayuran diatas kebun miliknya namun juga pohon-pohon yang memiliki nilai ekonomis, seperti cempaka (sejenis katu meranti khas Minahasa), pakoba (kayu keras, juga khas Minahasa), kayu manis dan pohon kopi. Dengan demikian kebun yang biasanya terlihat terbuka dan rawan erosi atau lonsor kini terlihat hujau karena dipenuhi dengan pohon-pohon.

Disakralkan 

Perkebunan jati di kaki Gunung Marang
BAGI warga kelurahan masarang sendiri, rasa menjaga hutan yang ada di gunung Masrang sudah terpatri dari generasi ke generasi. Dan hal ini ditunjukan lewat kesadaran mereka untuk tidak legi bergantung kepada hasil hutan seperti kayu malah sebagian lebih memilih untuk membuat hutan sendiri di kebun masing-masing, dengan jalan menanam pohon yang dianggap memiliki nilai ekonomis.

“Kami sudah tidak ke hutan lagi jika jika perlu kayu untuk dijual namun tinggal memilih kayu yang ada dikebun, mana yang sudah layak untuk dijadikan bahan bangunan,” jelas wakil kepala lingkungan I kelurahan Masarang Yantje Nusa.

Bahkan menurutnya dari hasil kayu yang mereka tanam sendiri sudah banyak warga yang menikmati hasilnya tanpa menyentuh pohon-pohon yang ada di gunung Masarang.

Hal senada juga diungkapkan oleh ketua Karang Taruna Beringin kelurahan Masarang Daniel Wagei, yang mengaku jika tidak ada halangan kayu cempaka yang ditanmnya tahun depan sudah bisa ditebang untuk dijadikan bahan banguan. Sikap warga kelurahan Masarang ini sendiri pantas ditiru dan diacungi jempol, karena mereka sampai hari ini tetap menjaga dan melestarikan hutan Masarang.

Kelurahan Masarang sendiri masuk dalam kecamatan Tondano Barat dengan luas 262.5 hektar, dengan jumlah kepala keluarga 272 dan 874 jiwa . Mayoritas pekerjaan warga sendiri adalah menjadi petani di sepitaran kaki gunung Masarang.

Berpotensi Wisata

Pemandangan yang bisa dinikmati dari gunung Masarang
KELURAHAN Masarang ini sendiri sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai kampung wisata, bahkan dahulu kelurahan ini kerap dijadikan sebagai lokasi kegitaan keagamaan seperti bible camp. Namun menurut pengakuan Nusa, lokasi bible camp tersebut sudah lama hilang seiring dengan bergantinya pemilik tanah yang dijadikan tempat kegiatan kerohanian tersebut.

Kendati demikian Masarang sangat kental dengan potensi wisata alamnya yang tentu jika dikelola lebih jauh akan sangat bermanfaat bagi dunia pariwisata. Salah satunya adalah, wisata agrobisnis seperti di desa Rurukan. Tak hanya hal tersebut wisatawan juga dapat menikmati keindahan hutan lindung Masarang serta satwa yang ada di hutan tersebut dan ini tentu lebih alami. Itu hanya sebagian kecil saja yang bisa di jual ke wisatawan, belum termasuk pertunjukan tari-tarian atau kebudayaan dari warga kelurahan Masarang.

Terlepas dari itu semua, lokasi TPA yang ada di jalan menuju kelurahan ini sangat tidak sesuai dengan kekayaan wisata alam kelurahan Masarang. Karena dengan adanya TPA pengunjung yang pertama kali bertandang ke lokasi ini akan lengsung bepikir negatif bahkan tidak menutup kemungkinan bakal langsung pulang tanpa sempat melihat keindahan kelurahan Masarang.

Untuk itu kedepannya diharapkan TPA tersebut dipindahkan ketempat lain begitupula kegiatan galian C yang marak di sepanjang jalan menuju kelurahan Masarang.

Dikelola Pihak Ketiga

SEMENJAK hutan lindung Masarang dikelola oleh yayasan Marang, otomatis saja keberadaan hutan ini terus terjaga. Kehadiran yayasan ini sendiri bertujuan untuk mengadakan proyek percontohan pelestarian hutan lindung Masarang, memulihkan kondisi hutan lindung Masarang sebagai sumber air dan tempat kehidupan flora dan fauna asli Minahasa dan mendidik masyarakat mengenai kepentingan pelestarian.

Bersama-sama kelompok masyarakat pedesaan, puluhan kelompok tani, kelompok pemuda dan pelajar sejumlah sekolah menengah umum (SMU) serta Pria Kaum Bapa Gereja yayasan Masarang berhasil mereboisasi dan menghijaukan sedikitnya lima hektar lahan kritis di lereng perbukitan Gunung Masarang, Timur Tomohon.

Dan hal ini didukung sepenuhnya oleh warga yang ada di sekitar kaki gunug. Ini adalah salah satu bukti bahwa dalam pengelolaan dan penjagaan hutan sudah saatnya pemerintah untuk memikirkan melibatkan pihak ketiga seperti yayasan Masarang ini.

Tidak hanya mengandalkan pihak kehutanan atau jaga wana dalam menjaga hutan yang dinilai tidak mebuahkan hasil sama sekali malah kenyataannya mesin gergaji tetap saja terdengar di hutan-hutan lindung serta perburuan satwa tetap saja terjadi.

Diharapkan hutan cara pengelolaan hutan lindung masarang ini dapat menjadi cermin bagi pemrintah dalam menjaga hutan, dan kalau bolah dikatakan hutan lindung yang masih tetap terjaga hingga kini adalah hutan Masarang. Dan keberadaan hutan lindung ini sendiri bukan hanya menjadi tanggung jawab warga kelurahan Masarang atau yayasan Marang namun kita semua karena hutan lindung Masarang adalah benteng hijau yang harus kita pertahankan. (abinenobm/tj-sk)

dipublikasikan SKH Swara Kita

Watu Pinantik, Lokasi Religius yang Ditinggalkan


MATAHARI sudah condong ke barat ketika penulis menginjakkan kaki di atas puncak bukit Watu Pinantik, sembari melepas lelah menikmati indahnya kota Manado seusai melakukan perjanan dari kaki bukit yang cukup terjal.

Warna jingga mewarnai seantero cakrawala seiring tenggelamnya matahari ditelan lautan luas berganti dengan kerlap kerlip lampu kota dalam pelukan malam seiring dengan terbengkalainya lokasi wisata ini.

Penulis yang tergabung dalam Tim Jelajah Swara Kita (TJSK) ditemani salah seorang rekan Biro Minut harian ini Stenly Mamuaja, sengaja berkunjung ke lokasi ini untuk melihat kondisi alam Watu Pinantik serta peninggalan bersejarahnya.

Lokasi ini sendiri masih berada dalam wilayah desa Kali yang berjarak kurang lebih dua puluh kilo meter dari pusar kota Manado. Untuk menuju ke tempat sarana penunjang, sudah tersedia baik prasarana jalan maupun angkutan. Namun Watu Pinantik tak setenar lokasi wisata air terjun Tapahan Telu yang ada di desa ini, padahal bukit ini lebih dahulu di jumpai sebelum air terjun.

Hal ini wajar, karena menurut Mamuaja yang nota bene adalah warga desa Kali, kurang lebih dua puluh tahun lokasi ini tidak diperhatikan lagi dan dibiarkan begitu saja. Padahal menurutnya, lokasi ini sarat dengan nilai sejarah religius.

“Dahulu lokasi ini tak pernah sepi dari pengunjung, baik wisatawan lokal mapun dari luar. Dan lokasi ini adalah menjadi salah satu tempat vaforit kami bermain waktu masih kecil karena keasrian alamanya,” terangnya.

Apa yang dikatakan Mamuaja memang didukung oleh bukti, ini ditandai adanya sarana jalan setapak dari beton yang sudah tertata dengan rapi walaupun kondisinya kini dipenuhi tanaman liar serta terdapat kerusakan.

Bukan cuma itu, keasrian alam ini sudah mulai terkikis dengan pengalihan lokasi dari warga menjadi lahan perkebunan yang otomatis mengorbankan pohon-pohon. Kesan gersang dan terancam erosi selalu mengintai kawasan itu apalagi jika dimusim penghujan. Walaupun keasrian hutan sudah mulai terusik, namun ada yang masih tetap terjaga hingga saat ini, yakni gambar-gambar pada beberapa batu yang menggambarkan perjalan bangsa Portugis ke daerah ini.

Peninggalan ini pun terus dijaga oleh warga sekitar sejak turun temurun hingga saat ini. Menurut penuturan Sekertaris Desa (Sekdes) Kali, Drs Fery Joekaunang, peninggalan bersejarah tersebut yang menjadi daya tarik tersendiri. Sebab, keadaan pada saat itu dapat kita ketahui melalui gambar-gambar yang terpahat di beberapa batu walaupun sudah ada yang mulai buram.

“Lokasi ini adalah tempat persembuyian bangsa Spanyol ketika terjadi perang dengan suku Tombulu. Dan menurut sejarah Pastor Lorenzo Geralda terbunuh di lokasi ini dan diperkirakan dikuburkan di sini pula,” terang penyusun sejarah gereja GMIM Moria Kali ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, nama Watu Pinantik sendiri adalah bahasa Tombulu yang di Indonesiakan berarti batu bertulis. Diduga peninggalan ini hasil karya dari para pengikut Lorenzo yang coba merekam apa yang terjadi ketika itu melalui media batu, seperti gambar orang yang mengenakan baju kebesaran perang, perahu, rumah adat Minahasa dan lambang gereja katolik.

Namun sangat disayangkan lokasi ini belum mendapat sentuhan dari pemerintah padahal untuk pariwisata Watu Pinantik sangat mendukung baik dari segi wisata sejarah, alam maupun keagamaan ada di tempat ini. Hal tersebut turut juga dibenarkan Hukum Tua desa Kali Hendrik F Pungus.

“Memang sampai saat ini belum ada campur tangan pemerintah untuk menjadikan lokasi ini menjadi salah satu tempat wisata padahal lokasinya cukup dekat dengan pusat kota,” terang Pungus.

Suasana alami sangat kental ketika TJSK mulai berjalan menuruni lembah dari bibir jalan berasapal menuju desa Kali yang berakhir di sebuah aliran air sungai. Dari sungai tersebut diperkirakan dua puluh menit untuk sampai ke titik tertinggi bukit ini melewati perkebunan milik warga dan di atas bukit ini didirikan sebuah monumen bentuk salib untuk mengenang pastor Lorenzo.

Namun salib tersebut sudah tak menyerupai salib lagi, karena kini hanya tinggal tiangnya saja. Warga sendiri sangat berharap lokasi ini mendapat perhatian secepatnya seiring dengan persiapan kota ini menyambut WOC 2009 dan MKPD 2010 nanti, utamanya dalam pemugaran peninggalan bersejarah.

Tak banyak biaya yang diperlukan jika pemerintah benar-benar mau mengolah lokasi ini kerena prasarana berupa jalan sudah ada tinggal dibenahi saja serta penanaman kembali pohon-pohon pelindung agar tempat ini tidak terlihat gersang. Watu Pinantik wisata alam sarat sejarah religius yang terlupakan dalam gilasan perjalan waktu. (abinenobm/tj-sk)

dipublikasikan SKH Swara Kita

Menatap Sileden Dari Bahowo


Anak-anak Desa Bahowo
PEKIKAN tawa dan canda riang dari puluhan anak kecil menyambut kedatangan kami Tim Jelajah Swara Kita (TJ-SK) di desa Bahowo Kecamatan Bunaken yang berada di sisi Utara kota Manado. Hanya diperlukan waktu satu jam lebih untuk menuju ke desa ini dengan menggunkan kendaraan bermotor dan mungkin desa ini belum terlalu dikenal seperti desa yang lain seperti Molas dan Tongkeina. Padahal dari sisi keindahan pemandangan pantai dan laut desa yang berada tepat di perbatasan antara Manado dengan Minut tak kalah menariknya dengan panorama yang dimiliki desa tetangganya.

Di desa ini sendiri, aktivitas Diving sudah tidak asing lagi bagi warganya utamanya yang berprofesi sebagai nelayan. Karena hampir setiap hari ada saja yang melakukan penyelaman tepat didepan pantai Bahowo seperti yang kami temui ketika berada di desa ini.

“Walaupun desa kami belum terlalu dikenal diluar namun keindahan lautnya sudah tidak asing bagi wisatawan luar. Ini ditandai dengan hampir setiap hari ada saja yang diving di lokasi,” terang salah seorang warga yang disapa dengan panggilan Bu’, dimana dirinya berkesempatan mengantar TJ-SK untuk melihat-lihat keindahan laut dengan perahunya.

Apa yang dikatakan warga ini memang benar karena pada hari itu terlihat dua kelompok sedang melakukan wisata laut dan diperkirakan tiap kelompok berjumlah puluhan wisatawan luar.

Keindahan Desa Bahowo dengan hutan bakau
Rupanya tak hanya keindahan laut pulau Buneken yang menjadi incaran wisatawan namun keindahan pemandangan dibawah laut juga tersebar dipulau lain seperti di desa ini yang menjadi salah satu lokasi yang digemari tentu tak lepas dari kesadaran warga desa Bahowo dalam menjaga lingkingunnya. Hal tersebut dapat terlihat jelas dengan masih terpeliharanya hutan bakau di desa ini yang boleh dikatakan masih begitu lebat sehingga biota laut tetap terjaga.

Walaupun demikian desa Bahowo ini sendiri belumlah merasakan sepenuhnya sentuhan langsung dari pemerintah malah terkesan kurang diperhatikan, ini ditandai dengan sarana infrastruktur berupa jalan ke desa ini mengalami kerusakan dimana-mana dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda dari instansi terkait untuk memperbaiki.

Padahal dari pengamatan TJ-SK lokasi desa Bahowo sangat strategis untuk dibangun dermaga penyebrangan antar pulau karena dari lokasi ini jarak pulau Bunaken, Siladen, Montehage, Manado Tua, Nain begitu dekat dan hanya dalam hitungan menit kita sudah dapat menginjakkan kaki ke pulau tersebut apalagi jiga menggunakan perahu motor dan tentu saja dengan biaya transpor yang lebih murah dibandingkan harus berangkat dari pelabuhan yang ada sekarang yakni Kuala Jengki.

Pulau Bunaken dan Siladen begitu dekat dengan Desa Bahowo
Menurut masyarakat yang ada di desa ini untuk menjangkau pulau-pulau tersebut kerap kali mereka hanya menggunakan sampan karena jarak yang tak terlalu jauh utamanya pulau Siladen. Pulau Siladen sendiri posisinya sangat berdekatan dengan desa ini dan jika air surut kemungkinan kita dapat berenang ke pulau tersebut.

“Dari tahun lalu rencana pembangunan dermaga kami sudah dengar namun entah kenapa realisasi pembangunan tersebut belum berjalan,” terang kepala lingkungan IV desa Bahowo Benyamin Loho. 

Dirinya sendiri sangat berharap pembangunan tersebut dapat terlaksana karena dengan demikian pendapat warganya dapat meningkat dengan cara menyipkan jasa penyewaan perahu bagi wisatawan yang hendak menyebrang ke pulau.

Pun demikian dalam waktu dekat ini dirinya berencana untuk membuat dermaga sederhana dari kayu karena selama ini warganya mengalami kesulitan untuk menambatkan perahunya. Didesa Bahowo ini sendiri dihuni 98 kepala keluarga dengan luas kurang lebih 60 hektar dan sifat gotong royong masih sangat kental terasa di desa ini. Selain berprofesi sebagai Nelayan sebagian warga juga ada yang bertani dan buruh banguan.

Ana-anak Desa Bahowo asik berenang di tepi pantai
Di desa ini sarana yang ada hanya sarana kesehatan berupa puskesmas dan sekolah itupun bantuan dari pihak swasta bukan dari pemerintah.

“Kami sangat berharap pemerintah juga dapat memberikan perhatian kepada kami jangan hanya pihak swasta,” imbau Loho. 

Dari informasi pembanguanan sarana tersebut berasal dari salah seorang wisatawan asing yang berinisiatif untuk membangun klinik yang namun para warga menyebutnya puskesmas dan banguan sekolah dasar.

Tak hanya kedua banguan tersebut bak-bak sampah juga ikut dibangun olehnya. Sangat ironis memang warga lebih merasakan perhatian dari pihak luar daripada pemerintah kita sendiri dan konon menurut salah seorang pemilik resort di lokasi tersebut pemerintah hanya lebih memperhatikan masalah pembayaran pajak daripada hal-hal penting lain seperti infrastruktur penunjang dan yang paling utama pemberdayaan masyarakat yang ada dilokasi waisata.(abinenobm/tj-sk)

dipublikasikan SKH Swara Kita 

Sabtu, 09 Juni 2012

Ketika Lingkungan Hanya Sebatas Isu

Aktivitas pertambangan PT Freeport di Papua 
ISU mengenai masalah lingkungan begitu gencar kita dengar selama ini. Bahkan hingga hari ini, Selasa (5/6) bertepatan dengan peringatan hari lingkungan hidup sedunia isu lingkungan menduduki rating pertama yang kerap kali menjadi bahan pembicaraan.

Tahun ini, tema hari lingkungan hidup sedunia sesuai United Nations Environment Programme (UNEP) adalah  “Green Economy: Does it include you?“. Kemudian dalam pelaksanaannya di Indonesia, tema Hari Lingkungan Hidup global tahun 2012 ini diadaptasi dalam tema Hari Lingkungan Hidup (World Environment Day) tingkat nasional menjadi “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”.

Tema ini menyoroti dua hal. Pertama ekonomi hijau adalah penting demi mewujudkan masa depan yang lebih cerah. Kedua, setiap orang baik individu, pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil merupakan komponen penting dalam mewujudkan ekonomi hijau. Tema ini pun erat kaitannya dengan tahun 2012 yang ditetapkan oleh PBB sebagai Tahun Internasional Energi Terbarukan untuk Semua.

Menarik memang. Karena setiap tahunnya, isu dan tema dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia beragam dan penuh dengan makna. Namun sayangnya, isu lingkungan ini tidak setenar dengan implementasi dilapangan. Karena hingga saat ini, detik ini, masih saja ada pohon yang tumbang akibat mesin gergaji. Satwa yang mati karena aksi perburuan dan wilayah hutan yang tergusur akibat pertambangan. Lalu apa manfaatnya isu lingkungan tiap hari dihembuskan ?

Masalah isu lingkungan yang begitu “top” juga menjadi tren di tanah Nyiur Melambai. Bahkan masih melekat dalam ingatan “perjuangan” Gubernur Sulut menyatakan penolakan terhadap rencana beroperasinya perusahaan tambang PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN) karena dianggap mengancam lingkungan. Tapi rupanya itu hanya “slogan” semata, karena beberapa tahun kemudia kedua perusahaan ini begitu leluasa melakukan aktivitas dan tidak ada lagi penolakan yang katanya dulu mengancam lingkungan dan kelangsungan hidup masyarakat.

Kini PT TTN dan MSN seakan tidak terbendung merubah bentangan alam dan memutus lalulintas satwa Minut-Kota Bitung. Bahkan terkesan, oknum-oknum yang dulunya begitu vokal menyatakan penolakan mengatasnamakan lingkungan hanya tutup mata dan “pura-pura” tidak melihat aktivitas pertambangan PT TTN dan MSN.

Lalu bagaimana dengan Kota Bitung yang memegang slogan Hidup Sehat Ramah Lingkungan kemudian diganti menjadi Hidup Sehat Mari Jaga Lingkungan. Sepintas dari slogan saja, kota pelabuhan ini terkesan sangat pro terhadap lingkungan. Tapi sayangnya, persoalan lingkungan di kota segudang prestasi ini tidak jauh beda dengan daerah lain.

Mulai dari masalah pengolahan limbah yang kini belum ditangani dengan serius Pemkot Bitung. Terbukti dari sampah rumah tangga yang rencananya digabungkan dengan limbah pengolahan batu bara dari sejumlah perusahaan industri. Sampah plastik di Selat Lembeh yang tidak kunjung teratasi. Keberadaan hutan yang kian hari semakin susut karena alasan Kota Bitung tidak memiliki polisi hutan atau Polhut untuk melakukan penjagaan.

Padahal dari catatan jumlah keseluruhan hutan yang ada diwilayah Kota Bitung ada 13.401 hektar. Luas hutan ini terdiri atas hutan lindung Klabat 1.471 hektar, hutan lindung Wiau 2.520 hektar dan Lembeh 620 hektar. Sedangkan hutan Cagar Alam Bitung seluar 7.518 hektar yangterdiri dari hutan Tangkoko 3219 hektar, Dua Sudara 4.299 dan hutan wisata alam 1250 hektar yang dibagi atas Batu Angus 635 hektar, Batu Putih 615 hektar dan hutan wisata Danowudu 21,5 hektar.

Lebih memimiriskan, keberadaan hutan Wiau kini terancam dengan aktivitas PT MSM. Dan persoalan ini seakan menambah persoalan lingkungan yang mendera kota yang selalu mengutamakan slogan lingkungan ini. Padahal belum tuntas perubahan bentangan alam di sejumlah wilayah Pulau Lembeh, kini masalah ancaman lingkungan perusahaan pertambangan ada didepan mata dan Pemkot Bitung seakan diam.

Semoga saja di hari lingkungan hidup sedunia ini, Kota Bitung bisa berkaca kepada slogan yang telah diagung-agungkan selama ini. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, semoga saja isu lingkungan tidak hanya sebatas isu semata untuk mencari popularitas.(*)

dipublikasikan http://beritamanado.com/berita-utama/ketika-lingkungan-hanya-sebatas-isu/102609/ dan Harian Tribun Manado Rabu 6 Juni 2012

Dikunjungi